Selamat Datang

Hello

Jumat, 15 April 2011

Penerapan Disiplin Yang Tepat Untuk Membentuk Anak Kreatif

Ilustrasi: Para ahli mengatakan, anak-anak yang dibesarkan dalam situasi di mana setiap orang diperbolehkan melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan kala mereka menginginkannya, umumnya tak akan disukai oleh orang-orang di luar rumahnya. Sebaliknya, anak-anak yang pada saat ini belajar untuk hidup berdasarkan peraturan, cenderung tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia dan berkelakuan lebih baik. (foto: vivanews.com)
Bagaimana menerapkan disiplin yang tepat untuk menciptakan anak yang kreatif? Menurut Elizabeth Hurlock dalam bukunya, Perkembangan Anak, ada tiga cara penanaman disiplin di rumah. Pertama disiplin otoriter, kedua disiplin permisif, dan ketiga disiplin demokratis. Pola seperti apa yang paling tepat untuk membentuk anak kreatif?

1. Disiplin otoriter 
Pada disiplin model ini, orangtua memberikan aturan yang harus dipatuhi tanpa ada penjelasan. Jika tidak, ia akan dihukum. Hukuman juga dianggap cara terbaik agar anak menjadi taat dan disiplin. Di sisi lain, orangtua kerap mengabaikan penghargaan bila anak berperilaku positif.

Dampaknya, hubungan antara orangtua dan anak kurang harmonis. Anak takut dan tertekan, bahkan ia akan kehilangan inisiatifnya untuk berkreasi. Kurangnya penghargaan juga membuat anak malas berkreasi, alias kreativitasnya mandek.


2. Disiplin permisif
Tipe disiplin seperti ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas kepada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai keinginan anak. Tidak ada aturan dan arahan kepada anak. Orangtua seperti ini juga tidak peduli terhadap perilaku anaknya sehingga mereka tidak pernah atau tidak mengontrol sikap dan kurang memberi bimbingan.
Memang kebebasan sesuai dengan konsep kreativitas. Namun, kreativitas tidak berarti bebas tanpa batas. Jika ini sudah terjadi, anak akan kehilangan inisiatif dan kreativitasnya. Sebab, di satu sisi anak bereksplorasi sendiri, tetapi di sisi lain bila tidak diserati dengan penghargaan atas pencapaian sesuatu, lama-lama anak menjadi malas berkreasi.


3. Disiplin demokratis
Model disiplin yang satu ini menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa sebuah aturan dibuat, selain anak memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri dan menghilangkan hukuman fisik. Sementara perilaku positif atau sesuai dengan harapan dihargai, baik dengan pemberian pengakuan sosial maupun pujian.


Orangtua memberikan kesempatan dan dorongan disertai feedback yang memadai untuk setiap kreasi yang dibuat oleh anak. Penghargaan yang diterima membuat anak bersemangat untuk terus mencoba dan memanfaatkan imajinasi yang dimilikinya. Kreativitasnya pun semakin berkembang.


Batasan yang diterapkan oleh orangtua juga membuat anak memahami, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, selain membantu anak memiliki komitmen terhadap tugas atau hal yang sedang dikerjakannya. Sejak dini si kecil harus diperkenalkan pada aturan. Ini penting untuk penyesuaian dirinya kelak sebagai anggota masyarakat. Tapi, bagaimana caranya agar si kecil mematuhi disiplin?
"Saya cenderung sangat lentur soal disiplin. Beda dengan suami saya. Dia banyak sekali menerapkan aturan pada anak kami. Padahal, anak kami masih kecil, baru 2 tahun. Kasihan kan, jika dia terlalu banyak dilarang," ungkap Nadia, ibu seorang putri.
Para orang tua, terutama ibu, umumnya sulit bersikap tegas menghadapi si kecil. Apalagi jika si kecil sudah menunjukkan mimik wajah memelas, aduh, rasanya kasihan sekali. Jadi deh, permintaan si kecil yang tadinya ditolak, akhirnya dikabulkan juga. Habis, enggak tega, sih.
Padahal, dengan ibu atau ayah bersikap demikian, sama juga mengajari anak untuk tak mematuhi aturan atau berdisiplin. Nah, jika kejadian ini sering terulang, si kecil tak akan tahu, mana yang sebenarnya boleh dan mana yang sebenarnya dilarang.
Apalagi jika si kecil diizinkan melakukan apapun yang ia ingin lakukan kala ia menginginkannya, ini lebih parah lagi. Kelak, ia akan mengalami kesulitan setelah memasuki lingkungan di luar rumah. Misalnya, sekolah. "Di sekolah, kan, ada aturan-aturan. Misalnya, mau masuk ke kelas harus berbaris dulu. Atau, di kelas ada saat di mana anak harus duduk tenang. Jika anak tak biasa disiplin, peraturan itu enggak mungkin bisa dia lakukan," terang psikolog Rahmitha P. Soendjojo.
Harus diingat, lanjut psikolog yang biasa dipanggil Mitha ini, mendisiplinkan anak bukan semata-mata agar anak berdisiplin dalam waktu seperti waktu makan, waktu tidur, dan lainnya. Tapi juga berdampak pada hal-hal lain dalam kehidupan, seperti menghargai orang lain. "Jika anak bisa duduk tenang di kelas, kan dia enggak mengganggu teman-temannya. Jika dia teratur, itu berarti dia belajar untuk bisa juga menghargai kepentingan orang lain. Dia tahu bagaimana adjustment, menyesuaikan diri di lingkungan itu," tuturnya.
Para ahli mengatakan, anak-anak yang dibesarkan dalam situasi di mana setiap orang diperbolehkan melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan kala mereka menginginkannya, umumnya tak akan disukai oleh orang-orang di luar rumahnya. Sebaliknya, anak-anak yang pada saat ini belajar untuk hidup berdasarkan peraturan, cenderung tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia dan berkelakuan lebih baik.
Lantaran itu, mendisiplinkan anak harus dilakukan sedini mungkin. Nah, usia batita merupakan usia yang tepat untuk mulai memperkenalkan anak pada disiplin. Sebab, terang Mitha, "Anak umur ini, kan, belum tahu mana yang benar dan salah, mana yang boleh dan tidak. Mereka juga belum dapat mengontrol dirinya. Jadi, orang tua harus memperkenalkannya dengan aturan."
PAKAI TAKTIK
Tapi tentunya tak gampang mendisiplinkan anak batita. Sebab, di usia ini, si kecil mulai mengembangkan kemandiriannya. Ia mulai mengenal, "Saya maunya ini," atau "Ini punyaku." Sehingga, ia berkecenderungan untuk menolak atau menunjukkan sikap bertolak belakang terhadap apa yang orang tua inginkan darinya.
Selain itu, anak usia ini sedang dalam tahap eksplorasi. Ia belajar tentang dunianya melalui eksperimen, pengamatan sebab-akibat, dan mencobai lingkungannya termasuk orang dewasa yang ada di lingkungan itu.
Tak heran jika anak usia ini kerap dikatakan "susah diatur". Tapi tak berarti si kecil tak bisa diatur atau dilatih berdisiplin. Hanya saja, seperti dikatakan Mitha, orang tua perlu taktik tertentu untuk mendisiplinkannya.
"Misalnya kita mau menerapkan jam tidur. Kita enggak bisa berharap, dia mau masuk ke kamarnya dan langsung tidur. Apalagi kalau dia belum mengantuk. Tapi tetap kita bawa ke kamar, lalu kita giring dia untuk memasuki satu aktivitas lain yang sifatnya untuk cooling down dia. Entah dengan membacakan buku cerita atau mendongeng, dan sebagainya. Dengan begitu, lama-lama dia akan tertidur juga," papar Mitha. Jika si kecil menolak dan minta ke luar kamar lagi, menurut Mitha, tetap bisa diatasi. "Katakan dengan tegas tapi lembut, 'Sekarang bukan waktunya main.' Jika dia menjerit-jerit, gendong. Kalau kita gendong dia dengan sayang sambil kita beri tahu, 'Tidak. Mama ingin kamu tidak ke luar,' dia bisa merasakan, kok," tutur psikolog dari Data Informasi Anak - Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (DIA-YKAI) ini. Yang penting, tegas Mitha, orang tua harus tetap konsisten dan konsekuen. "Jangan karena enggak tega, kita lalu membawa si anak ke luar kamar lagi," ujarnya. Memang, aku Mitha, pada mulanya terasa berat. Tapi jika orang tua tetap konsisten (jam 20:00 harus tidur, misalnya) dan konsekuen (anak tetap di dalam kamar apapun yang terjadi), lama-lama anak pun akan mengerti.
JANGAN ASAL MELARANG
Cara menyatakan aturan juga penting, karena akan menentukan berhasil tidaknya disiplin. Jadi, jangan hanya memberikan aturan tapi juga dijelaskan mengapa aturan itu diadakan. Katakan pada si kecil, "Kamu harus tidur sekarang supaya besok kamu bisa punya banyak tenaga lagi untuk bermain." Atau, "Ini rak sepatu, tempat menyimpan sepatu. Jadi kalau kamu mau pakai sepatu, kamu tidak bingung lagi mencarinya." Begitu pun dalam melarang anak. Jangan hanya mengatakan, "Pokoknya, kamu tidak boleh nonton TV lagi!". Tapi katakan, "Kamu tidak boleh nonton TV lagi karena sekarang waktunya tidur siang." Atau, "Kamu tidak boleh makan cokelat karena kamu sedang batuk." Contoh lain, "Kamu tidak boleh mencoret-coret tembok karena temboknya jadi kotor."
Aturan/larangan juga harus jelas bagi anak. Misalnya, "Kamu boleh main di luar rumah, asal tidak jauh-jauh." Aturan ini akan membuat anak bingung. "Tidak jauh-jauh"nya itu sampai di mana? Lagipula, anak usia ini belum dapat diminta untuk menentukan sendiri. Lebih baik katakan, "Kamu boleh main di luar rumah, tapi hanya sampai di depan pintu pagar halaman depan rumah kita."
Selain itu, kita juga perlu memberikan alternatif perbuatan atau tingkah laku yang bisa diterima sebagai gantinya. Mitha mengingatkan, kemampuan berpikir alternatif anak usia ini masih belum berkembang sempurna. Karena itu, terangnya, "Kita harus memberikan bantuan jalan kepada anak untuk melakukan hal lain yang kita setujui." Jadi, bila kita melarang, "Kamu tidak boleh main ke rumah tetangga," misalnya; maka kita harus memberikan alternatifnya, "tapi kamu boleh minta temanmu main ke rumah kita." Contoh lain, "Kamu tidak boleh mencoret-coret di tembok, tapi kamu boleh mencoret-coret di atas kertas." Atau, "Kamu tidak boleh meninju kakakmu. Kalau kamu mau bertinju, maka kamu boleh meninju bantal."
Dengan memberikan alternatif, terang Mitha, anak jadi tahu dengan jelas tentang mana yang boleh dan tak boleh ia lakukan. "Kita pun jadi enggak menghambat perkembangan dia," katanya. Contoh, bila kita hanya melarang si kecil mencoret-coret di tembok sementara kita tak memberikan alternatif di mana ia boleh melakukannya, maka itu dapat menghambat perkembangan kreativitasnya. Contoh lain, perkembangan emosi. Si kecil marah kepada kakaknya dan ingin melampiaskan kemarahannya dengan memukul si kakak. Nah, dengan memberikan alternatif seperti meninju bantal, maka ia dapat menyalurkan perasaannya itu.
JIKA AYAH-IBU BERBEDA
Yang tak kalah penting adalah sikap ayah-ibu dalam mendisiplinkan anak. Jangan sampai, ayah membolehkan sementara ibu melarang. "Jika ada perbedaan antara ayah-ibu atau selalu bertolak belakang, anak akan bingung. Selain itu, anak bisa mencari salah satu figur orang tua sebagai pelindung. Misalnya ia ingin sesuatu dan ia tahu ibunya tak akan membolehkan, maka ia akan 'lari' ke ayahnya yang pasti akan membolehkan," terang Mitha.
Perbedaan ini, tambah Mitha, juga akan membuat anak tak tahu aturan yang jelas itu seperti apa. "Ini, kan, bisa menimbulkan konflik dalam diri anak," tukasnya. Apalagi jika perbedaan itu kerap terjadi dan tak pernah dijembatani, lama-lama si kecil akan selalu timbul keraguan yang bisa terbawa sampai ia dewasa.
Ditambah lagi, tak ada pihak lain semisal keluarga besar yang mengarahkan si kecil. "Bukan tak mungkin si anak kelak menjadi tak tahu mana yang sebetulnya salah dan mana yang sebetulnya memang benar. Ada kemungkinan juga, nantinya ia berkembang menjadi orang yang tak mau mengakui kesalahannya meskipun ia tahu telah melakukan kesalahan," tutur Mitha.
Karena itu, Mitha menegaskan, ayah-ibu boleh saja berbeda, tapi untuk beberapa hal tertentu apalagi yang berkaitan dengan pendidikan anak, maka harus ada kesepakatan. Dengan demikian, anak bisa berkembang optimal serta memiliki kepribadian yang matang dan baik.
Agar Disiplin Efektif
* Mulailah dari aktivitas sehari-hari. Misal, keteraturan dalam hal waktu makan, tidur, mandi, main, nonton TV, dan sebagainya. Begitu pun dalam hal mengganti pakaian tidur ketika akan tidur, meletakkan baju kotor di tempatnya, mencuci tangan sebelum makan, dan sebagainya.
* Jangan terlalu banyak aturan karena akan menghambat dorongan alaminya untuk mandiri. Akibatnya, ia akan memberontak. Bisa juga ia jadi tunduk, semata karena takut dihukum.
* Tetapkan dan terapkan aturan/larangan dengan kasih sayang. Ini memberinya kesempatan untuk memahami mengapa ia harus berdisiplin. Aturan yang otoriter membuat ia kehilangan disiplin dirinya saat berada di luar pengawasan Anda. Ia pun dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang tak mampu membuat pilihan secara bijaksana.
* Beri perhatian kala ia bersikap baik. Seringlah memuji atau memberinya penghargaan kala ia mematuhi aturan.
* Jangan bilang ia anak nakal/bandel/jahat atau lainnya yang sejenis itu, kala ia melanggar disiplin. Lebih baik katakan, "Bunda enggak suka dengan cara kamu menyimpan sepatu di sembarang tempat." Ingat, yang dikritik ialah perilakunya.
* Jangan pakai kekerasan. Sekalipun hanya dengan sedikit cubitan atau sentilan. Karena, sekali saja dilakukan, Anda akan terdorong untuk melakukannya lagi di lain waktu. Lama-lama si kecil belajar bahwa kekerasan merupakan satu bentuk penyelesaian masalah.
* Beri hukuman sesuai pelanggarannya. Misal, ia mencoret-coret tembok. Jangan hukum ia dengan melarangnya nonton TV. Tak ada hubungan sama sekali antara nonton TV dengan mencoret-coret tembok. Sebaiknya, ajak si kecil bersama-sama Anda membersihkan bekas coret-coretan itu.
* Jangan berharap si kecil akan segera berdisiplin begitu aturan ditetapkan dan diterapkan. Perlu waktu untuk mengulang-ulang bahwa sesuatu itu salah atau tak boleh dilakukan, sebelum akhirnya anak mengerti. Ingat, kemampuan berpikir anak usia ini masih terbatas.
* Anda pun harus disiplin. Ingat, salah satu karakteristik anak usia ini ialah meniru, terutama meniru ayah-ibunya. Nah, jadilah model yang benar bagi si kecil.
* Ciptakan lingkungan yang aman di rumah, antara lain dengan menyingkirkan segala barang/benda yang dapat membahayakan si kecil. Sehingga, Anda tak harus bikin banyak aturan/larangan dan ia pun bisa memuaskan rasa ingin tahunya dengan aman.

Kamis, 31 Maret 2011

TEKNIK MENGUBAH POLA PIKIR (MINDSET)

UNTUK MENGUBAH POLA PIKIR TERDAPAT BEBERAPA TEKNIK, DIANTARANYA :
1. Metode NLP = Neuro Linguistic Programming;
2. Kontemplasi = Perenungan = Muhasabah = ESQ Technique;
3. Membangun Konsep Diri (Self Concept);
4. Pemetaan Pikiran = Mind Mapping;
5. Pengetahuan Hipnosis, dsb.

1. Neuro Linguistic Programming
Neuro = Syaraf Otak/Pikiran lewat panca indera (penglihatan, pendengaran, pencecap rasa, penciuman, perasa sentuhan).
Linguistic = Bahasa Pikiran.
Programming = Pemrograman (Ulang) Pikiran.
NLP adalah : Suatu Cara Untuk Menyaring berbagai pengalaman atau hal-hal yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari melalui Lima Indera.

BAHASA DAN PEMOGRAMAN PIKIRAN
Pikiran Sadar mempunyai empat fungsi utama :
1. Mengidentifikasi informasi yang masuk, melalui panca indra, penglihatan, pendengaran, penciuman, pencecap, sentuhan/perasaan;
2. Membandingkan, dengan data base (referensi, pengalaman, dan informasi dalam pikiran bawah sadar);
3. Menganalisis, merinci informasi menjadi komponen yang lebih kecil;
4. Memutuskan respon atau tindakan yang akan diambil terhadap informasi yang masuk.

Bahasa Pikiran Bawah Sadar : (Sandy Mac Gregor, 2005)
1. Pikiran bawah sadar tidak bisa membedakan imajinasi dan kenyataan.
2. Pikiran bawah sadar hanya mengenal kata “positif”, tidak mengenal kata “negatif” seperti : tidak, jangan, dsb. Contoh : “jangan jatuh” , ganti dengan “pertahankan tetap berdiri”.
3. Pikiran bawah sadar hanya mengenal kata sekarang atau saat ini (present tense), tidak mengenal kata besok atau lusa. Contoh : jangan katakan “besok saya akan berhenti merokok”, tapi “sekarang saya harus berhenti merokok”.
4. Pikiran bawah sadar hanya mengenal kata “saya”, tidak mengenal kata : kamu, kami, kita atau mereka.
5. Pengulangan, katakanlah berulang-ulang sampai bawah sadar mengerti pesan Anda (Ingat : pembiasaan).

PIKIRAN SADAR :
1. Menguasai 7 ± 2 bit informasi
2. Berpikir berurutan
3. Logis
4. Linier
5. Berpikir
6. Pengalaman sekunder
7. Sadar
8. Gerakan sadar
9. Masa kini
10. Mencoba mengerti masalah
11. Memilih/mengarahkan tujuan
12. Disengaja
13. Verbal
14. Analitis
15. Fokus terbatas
16. Kognitif
17. Memproses sesudah 0,5 detik

PIKIRAN BAWAH SADAR :
1. Menguasai 2,3 juta bit informasi
2. Simultan/bersamaan
3. Intuitif dan menghubungkan
4. Sibernetik/acak
5. Merasa
6. Pengalaman primer
7. Tidur, mimpi, dll
8. Gerakan tak sadar
9. Menyimpan informasi/Memori
10. Mengetahui solusi
11. Membuat tujuan tercapai
12. Otomatis
13. Non-Verbal
14. Sintetis
15. Tak terbatas, dan ekspansif
16. Eksperiensial
17. Memproses langsung, sebelum pikiran bawah sadar menyadari

Sandy MacGregor (2005,15) mengatakan bahwa “Accelerated Learning” (Belajar Efektif/Cepat) sesunguhnya juga berlangsung dalam konsep NLP, yaitu dengan menyederhanakan/memfo-kuskan “pancaindra” menjadi “tigaindra” yang dominan yaitu VAK : Visual= penglihatan , Auditori=pendengaran, dan inestetik=gerak,

Dengan demikian kita juga bisa memanfaatkan teknik NLP untuk meningkatan proses belajar dan hasil belajar

14 Asumsi Dasar N L P
Dalam Membentuk Pola Sudut Pandang seseorang:
1. Menghormati cara orang lain membentuk dunianya
2. Peta bukanlah wilayah
3. Selalu ada maksud baik dari tiap tingkah laku
4. Orang-orang melakukan hal yang terbaik sebatas sumber-sumber yang diketahui
5. Tidak ada orang yang kaku, hanya komunikator yang kurang fleksibel
6. Makna komunikasi adalah respon yang anda peroleh
7. Seseorang dengan fleksibilitas akan mampu mengontrol dirinya
8. Tak ada kegagalan, hanya umpan balik yang kurang tepat
9. Setiap pengalaman memiliki struktur sendiri
10. Manusia mempunyai dua tingkatann komunikasi : sadar dan bawah sadar
11. Semua orang punya sumber-sumber yang cukup guna merubah diri kearah lebih positip. Sumber-sumber tsb berasal dari pengalaman masa lalu individu.
12. Tubuh dan pikiran saling mempengaruhi
13. Jika sesuatu mungkin bagi seseorang maka hal itu juga mungkin bagi yang lain
14. Saya bertanggung jawab tentang pemikiran saya, Oleh karena itu saya bertanggung jawab akan hasil yang saya peroleh.

2. Kontemplasi
(Perenungan = Muhasabah = ESQ Technique)
Mengenali tujuan (konsep diri manusia)
Melakukan kontemplasi
Mengevaluasi diri
Mengenali sifat baik dan buruk diri
Bersihkan hati (qolbu)
Buang sifat negatif
Komitmen pada sifat positip
Terus menerus melakukan perbaikan

Prinsip Kerja Berbasis Suara Hati
Berdoa saat Memulai kerja
Bersyukur atas segala ni’mat
Berfikir Positif Terhadap Allah dan terhadap sesama
Bekerja dunia berbasis akhirat
Bekerja Optimal sebelum menuntut hak
Konsisten dalam komitmen
Belajar & Terus Belajar

Proses Penjernihan Suara Hati
• Siapkan diri dengan rileks (gelombang alpha).
• Berdoalah, mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa.
• Lakukan Kontemplasi (Perenungan/Muhasabah) :
– Evaluasi diri sejak kecil hingga saat ini.
– Kenang orang-orang yang telah berjasa dalam hidup Anda
– Temukan kesalahan/kekurangan diri
– Berjanji untuk tidak mengulangi
– Mohon ampun pada Tuhan Yang Maha Esa.
• Perbaiki kesalahan kepada orang lain dengan minta maaf.
• Perbaiki dan tingkatkan kemampuan diri (dengan memperbaiki sikap perilaku dan meningkatkan kemampuan dan prestasi) .
• Lakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
• Proses penjernihan hati ini dapat dilakukan setiap saat/setiap hari.

Lakukan muhasabah/perenungan diri Anda di tempat yang mendukung, misalnya tempat yang sunyi/tenang dan gelap. Galilah rekaman bawah sadar Anda dan tuliskan di kolom berikut ini!

No Jenis rekaman bawah sadar Pola pikir Negatif Pola pikir Positif
1 Kecewa karena gagal putus asa terus berusaha
2 ....................................... ............................. ............................
3 ....................................... ............................. ............................
4 ....................................... ............................. ............................
5 ....................................... ............................. ............................

3. KONSEP DIRI
(SELF CONCEPT)
Semua persepsi kita terhadap aspek diri kita yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis, yang terbentuk karena pengalaman masa lalu kita dan interaksi kita dengan orang lain.

HAL-HALYANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI (bagimana kita memandang seluruh aspek diri)
1. CITA-CITA DIRI (keinginan untuk mencapai sesuatu)
2. CITRA DIRI (gambaran diri yang diyakini benar)
3. HARGA DIRI (seberapa besar menilai/menghargai diri)

BAGAIMANA ANDA AKAN
MEMBENTUK KONSEP DIRI
Sangat ditentukan oleh sikap diri Anda sendiri.
Sikap adalah kebiasaan berpikir dan oleh karenanya dapat dibentuk dan dipelajari.
Sikap yang baik harus terus menerus dipupuk dan dikembangkan dari waktu ke waktu dengan cara mengubah cara berpikir Anda yang lama, menjadi cara berpikir yang baru dalam memandang semua hal.

Konsep Diri PNS :
PANCA PRASETYA KORPRI
Kami anggota Korps Pegawai Republik Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, adalah insan yang :
1. Setia dan taat kepada Negara Kesatuan dan Pemerintah Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945;
2. Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara serta memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia negara;
3. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan;
4. Berusaha memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan Korps Pegawai Republik Indonesia;
5. Berjuang menegakkan kejujuran dan keadilan, serta me ningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme.

Indikator Konsep Diri PNS
Bekerja sebagai ibadah
Budaya kerja efektif
Menghindari sikap tidak terpuji
Pelayan dan pengayom masyarakat
Sesuai aturan yang berlaku
Selalu meningkatkan kompetensi dengan belajar terus menerus
Tidak rentan terhadap perubahan
Terbuka dan realistis
Dalam bekerja mampu berpikir serba sistem
Bekerja profesional

Pergeseran Pola Pikir
1. Bekerja utk uang Bekerja utk ibadah
2. Berpikir linier Berpikir sistem
3. Berpikir bagian Berpikir menyeluruh
4. Berpikir objek Berpikir hubungan
5. Berpikir hierarkhi Berpikir jaringan
6. Berpikir struktur Berpikir proses
7. Pola pikir negatif Pola pikir positip

TIPS : PENGEMBANGAN POLA PIKIR
menentukan tujuan pengembangan diri secara jelas
mengenali potensi pola pikir diri, (pola pikir yang mendukung / pola pikir yang menghambat)
mengidentifikasi virus internal dan eksternal yang menghambat pengembangan diri.
berani mencoba / mengambil risiko.
mencari feedback secara terus-menerus.
belajar dari pengalaman.
melaksanakan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.

Latihan Pergeseran Pola Pikir
No Contoh Kasus Klasifikasi berpikir
1 ...............................
...............................
...............................
...............................
...............................
............................... 1. Respons awal :

1. Langkah2 :

1. Solusi
2 ...............................
...............................
...............................
...............................
...............................
............................... ...............................
...............................
...............................
...............................
...............................
...............................

4. Mind Map (PEMETAAN PIKIRAN)
Adalah metode untuk membuat catatan untuk berpikir. Peta pikiran juga digunakan untuk memecahkan masalah, untuk mengingat (menghapal) dan melakukan sesuatu pada saat kita sedang berpikir atau sewaktu pikiran memasuki otak kita.

LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT MIND MAP :
1. Tulislah masalah yang akan Anda pecahkan dalam bentuk lingkaran atau pohon, di bagian tengah kertas.
2. Buatlah cabang-cabang atau kegiatan yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut.
3. Buatlah ranting-ranting yang mempengaruhi atau berhubungan dengan cabang-cabang tersebut.

MANFAAT MIND MAP :
1. Topik atau cabang masalah ungkapkan dalam bentuk gambar dan diberi warna menarik, demikian pula untuk sub topik atau rantingnya.
2. Mengapa gambar ? Karena nilai “sebuah gambar adalah lebih dari seribu kata-kata”.
3. Gambar adalah produk sisi otak kanan yang kreatif, rincian detailnya dibuat oleh sisi otak kiri yang logis analitis. Efektifitas mengingat gambar adalah 80 % (Sandy McGregor, 2005).
4. Manfatkan peta pikiran dengan cara menempelnya di dinding, bila banyak di tempel di buku. Lihat-lihatlah secara berkala.

5. Hipnosis
1. Hipnosis adalah adalah seni komunikasi untuk mempengaruhi seseorang sehingga mengubah tingkat kesadarannya, dicapai dengan cara menurunkan gelombang otak.
2. Hipnosis adalah eksplorasi alam bawah sadar.
3. Hipnosis adalah kondisi bawah sadar yang meningkat.

Jenis Hipnosis :
1. Stage Hypnosis (hipnosis panggung);
2. Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy;
3. Anodyne Awareness (untuk mengurangi rasa sakit dan kecemasan);
4. Forensic Hypnosis (untuk investigasi);
5. Metaphysical Hypnosis (membangun kondisi rileks sangat dalam atau somnambolisme), bila diukur dengan EEG menunjukkan frekuensi gelombang otak sangat rendah.

Mitos dan pandangan yang salah :
1. Hipnosis adalah penguasaan pikiran (karena hakekat hipnosis adalah self-hypnosis).
2. Hipnosis merupakan praktik supranatural.
3. Hipnosis sama dengan tidur.
4. Hipnosis dapat digunakan untuk mengubah kepribadian.
5. Hipnosis mengakibatkan lupa ingatan, gendam dsb
 Sumber: Web Lain

Pengikut